Cegah Karhutla dari Sekolah, Balai P2SDM Wilayah V Tanamkan Kesadaran Menjaga Hutan Kepada Generasi Muda

Dari mengenal hutan, memahami ancaman Karhutla, hingga menanam pohon, 32 pelajar SMP  Negeri 2 Loa Janan diajak menjadi bagian dari generasi pelestari hutan.

Kutai Kartanegara, 13 Agustus 2026

Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya membutuhkan  kesiapsiagaan di lapangan, tetapi juga kesadaran masyarakat sejak dini. Menjawab kebutuhan  tersebut, Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Wilayah V terus  memperkuat edukasi kehutanan kepada generasi muda melalui kegiatan Forester Goes to School dan Sosialisasi “Pengenalan dan Pengendalian Karhutla” di SMP Negeri 2 Loa Janan, Kabupaten  Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Sebanyak 32 siswa/i mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang tidak hanya untuk memberikan  pengetahuan mengenai hutan dan ancaman karhutla, tetapi juga mengajak pelajar melakukan  aksi nyata melalui penanaman pohon.

Kegiatan dibuka oleh Kepala SMP Negeri 2 Loa Janan, Bapak Abdurrasid dan dilanjutkan dengan  edukasi yang disampaikan oleh penyuluh kehutanan Balai P2SDM Wilayah V.

Mengenalkan Karhutla dengan bahasa generasi muda

Pada sesi “Pengenalan dan Pengendalian Karhutla”, para siswa diajak memahami penyebab,  dampak, serta pentingnya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Materi dikemas secara komunikatif agar isu karhutla yang selama ini sering dipahami sebagai  persoalan teknis dapat dipahami oleh pelajar sebagai persoalan yang berkaitan langsung dengan  kehidupan sehari-hari.

Siswa juga mendapatkan materi “Hutan Tropis: Dunia Ajaib yang Penuh Kehidupan”, yang  memperkenalkan hutan tropis sebagai ekosistem yang menyimpan kekayaan flora dan fauna serta  memiliki peran penting bagi kehidupan manusia.

Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya diajak untuk mengetahui apa itu hutan, tetapi  juga memahami mengapa hutan harus dijaga dan apa yang dapat mereka lakukan untuk ikut  melindunginya.

Belajar Tidak Berhenti di Ruang Kelas

Pesan menjaga hutan kemudian diterjemahkan menjadi aksi nyata.

Usai mengikuti sosialisasi, para siswa bersama Balai P2SDM Wilayah V melakukan penanaman  bibit pohon meranti dan jambu di lingkungan sekolah.

Kegiatan ini menjadi bagian penting dari konsep Forester Goes to School, yaitu menghadirkan  pembelajaran kehutanan yang tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi memberikan  pengalaman langsung kepada peserta didik.

Melalui penanaman pohon, siswa diperkenalkan pada proses sederhana dalam menjaga  lingkungan sekaligus diajak memahami bahwa menjaga hutan membutuhkan konsistensi,  kepedulian, dan keterlibatan setiap orang.

Sebagai bentuk keberlanjutan kegiatan, Balai P2SDM Wilayah V juga menyerahkan bibit pohon  meranti kepada pihak SMP Negeri 2 Loa Janan untuk ditanam dan dirawat di lingkungan sekolah.

Penyerahan bibit tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan ruang hijau di sekolah, tetapi  juga menjadi media pembelajaran hidup bagi siswa untuk mengamati pertumbuhan pohon dan  memahami pentingnya menjaga vegetasi bagi lingkungan.

Menyiapkan Generasi Pelestari Hutan

Kegiatan Forester Goes to School merupakan bagian dari upaya Balai P2SDM Wilayah V  memperkuat literasi kehutanan dan membangun karakter peduli lingkungan di kalangan generasi  muda.

Program edukasi Balai P2SDM Wilayah V diarahkan untuk memberikan pengetahuan mengenai  fungsi hutan, keanekaragaman hayati, konservasi, serta mendorong lahirnya Generasi Pelestari  Hutan. Pendekatan pembelajarannya menggabungkan edukasi, diskusi, praktik lapangan,  pengenalan flora dan fauna, serta aksi nyata.

Kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata pelaksanaan penyuluhan kehutanan yang menempatkan  pembangunan sumber daya manusia sebagai bagian penting dari upaya menjaga kelestarian  hutan.

Bagi Balai P2SDM Wilayah V, membangun kesadaran generasi muda merupakan investasi jangka  panjang. Ketika pengetahuan tentang hutan tumbuh sejak sekolah, diharapkan akan terbentuk  perilaku yang lebih peduli, bertanggung jawab, dan mampu mengambil peran dalam menjaga  lingkungan.

Dari 32 Pelajar, Menjadi Gerakan yang Lebih Besar

Sebanyak 32 pelajar yang mengikuti kegiatan ini menjadi bagian dari pesan yang lebih besar:  pencegahan karhutla bukan hanya tanggung jawab petugas kehutanan, tetapi merupakan  tanggung jawab bersama.

Sekolah dapat menjadi ruang awal untuk membangun kesadaran tersebut. Guru dapat menjadi penggerak.

Penyuluh kehutanan dapat menjadi pendamping.

Generasi muda dapat menjadi bagian dari solusi.

Melalui Forester Goes to School, Balai P2SDM Wilayah V ingin memastikan bahwa pesan menjaga  hutan tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi kepedulian dan  tindakan.

Karena hutan yang lestari tidak hanya membutuhkan penjaga di lapangan, tetapi juga  membutuhkan generasi yang sejak dini memahami mengapa hutan harus dijaga.

Dari sekolah, kesadaran itu ditanam. Dari generasi muda, masa depan hutan Indonesia dijaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.