{"id":583,"date":"2016-03-30T02:35:09","date_gmt":"2016-03-30T02:35:09","guid":{"rendered":"http:\/\/bp2sdmk.dephut.go.id\/web\/?p=583"},"modified":"2025-09-04T13:48:31","modified_gmt":"2025-09-04T06:48:31","slug":"cerita-vincencia-penyuluh-kehutanan-di-daerah-perbatasan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/2016\/03\/30\/cerita-vincencia-penyuluh-kehutanan-di-daerah-perbatasan\/","title":{"rendered":"CERITA VINCENCIA, PENYULUH KEHUTANAN DI DAERAH PERBATASAN"},"content":{"rendered":"<h2 style=\"text-align: center;\">CERITA<br \/>\nVINCENCIA, PENYULUH KEHUTANAN DI DAERAH PERBATASAN<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Vincencia Septaviani Izzera Sulistya Putri. Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat, hampir 8 tahun telah kuabdikan diriku menjadi Penyuluh Kehutanan di daerah Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, tepatnya di wilayah kerja Kecamatan Binjai Hulu dengan segala suka dukanya.<br \/>\nKuakui awalnya berat sekali rasanya untuk melaksanakan tugas menjadi penyuluh ini, dengan medan jalan yang mengerikan itu, apalagi dulunya diriku terbiasa tinggal di kota besar dengan segala fasilitas yang menggiurkan saat menyelesaikan studi S2 Ilmu Kehutanan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.<\/p>\n<p>Namun Tuhan memampukanku. Saat melihat SENYUM TULUS Masyarakat yang secara terbuka menerimaku dan memiliki keinginan yang tinggi buat berubah menjadi lebih baik, membuatku menjadi bersemangat dan berusaha menyayangi pekerjaanku ini.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-575 aligncenter\" src=\"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/sintang-4-225x300.jpg\" alt=\"sintang 4\" width=\"225\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/sintang-4-225x300.jpg 225w, https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/sintang-4.jpg 720w\" sizes=\"auto, (max-width: 225px) 100vw, 225px\" \/><\/p>\n<h6 style=\"text-align: center;\">Perjuangan penyuluh menuju Wilayah Kerja<\/h6>\n<p style=\"text-align: justify;\">Benar pepatah lama mengatakan tak kenal maka tak sayang, setelah mengenal lebih jauh masyarakat disana, membuatku menyayangi mereka dan memiliki tekad ingin mengubah mereka menjadi lebih baik, terutama kaum ibu-ibu, dengan membentuk Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Kelompok Wanita Tani Hutan (KWTH).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelan namun pasti saya berusaha mengubah pola pikir dan paradigma mereka tentang mengelola lahan menjadi lebih baik. Walaupun seringkali saya pun harus merogoh kocek sendiri untuk menyediakan bibit-bibit tanaman kehutanan agar mereka lebih bersemangat lagi.<\/p>\n<p>Saya berusaha memotivasi juga kaum ibu-ibu \/ KWTH mengembangkan berbagai potensinya melalui berbagai cara, agar diharapkan kedepannya mereka bisa memiliki salah satu produk yang bisa menjadi brand atau produk khas buat wilayah mereka yang selain bisa meningkatkan taraf ekonomi mereka juga dapat menonjolkan potensi daerah mereka dan nama daerah mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-576 aligncenter\" src=\"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/sintang-5-300x225.jpg\" alt=\"sintang 5\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/sintang-5-300x225.jpg 300w, https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/sintang-5-360x270.jpg 360w, https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/sintang-5.jpg 720w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya BANGGA dan IKHLAS menjadi Penyuluh di daerah dengan medan kerja seperti itu, saya bangga bisa berbagi ilmu dengan masayarakat disana dengan segala keterbatasan yang saya miliki, demi sebuah masyarakat yang lebih berkembang dan kreatif, walaupun terkadang untuk melaksanakan tugas saya itu harus meneteskan airmata, lelah dan mengurangi porsi pertemuan dengan keluarga. Karena PENYULUH ADALAH ABDI MASYARAKAT, MESTI SIAP KAPANPUN DAN DIMANAPUN BERTUGAS, bahkan saat hari minggu atau libur pun apabila kelompok ingin melakukan pertemuan, kita harus tetap siap melaksakan tugas kewajiban kita.<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-577 aligncenter\" src=\"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/sintang-6-300x225.jpg\" alt=\"sintang 6\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/sintang-6-300x225.jpg 300w, https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/sintang-6-360x270.jpg 360w, https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/sintang-6.jpg 720w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semoga tuhan selalu memampukan dan menguatkan saya untuk selalu bisa bersama teman-teman masyarakat di Binjai Hulu untuk berkembang terus menjadi lebih baik. Aamiin.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>CERITA VINCENCIA, PENYULUH KEHUTANAN DI DAERAH PERBATASAN Vincencia Septaviani Izzera Sulistya Putri. Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat, hampir 8 tahun telah kuabdikan diriku menjadi Penyuluh Kehutanan di daerah Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, tepatnya di wilayah kerja Kecamatan Binjai Hulu dengan segala suka dukanya. Kuakui awalnya berat sekali rasanya untuk melaksanakan tugas menjadi penyuluh&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":575,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-583","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/583","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=583"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/583\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7797,"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/583\/revisions\/7797"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/575"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=583"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=583"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=583"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}