{"id":1412,"date":"2018-06-30T23:32:02","date_gmt":"2018-06-30T16:32:02","guid":{"rendered":"http:\/\/103.52.213.163\/web\/?p=1412"},"modified":"2025-09-04T13:58:33","modified_gmt":"2025-09-04T06:58:33","slug":"1412","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/2018\/06\/30\/1412\/","title":{"rendered":"PENDAMPINGAN \u201cBERTEMAN\u201d MENDUKUNG PERCEPATAN PERHUTANAN SOSIAL"},"content":{"rendered":"<p><strong>PENDAMPINGAN \u201cBERTEMAN\u201d MENDUKUNG PERCEPATAN PERHUTANAN SOSIAL<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pada periode 2015 \u2013 2019 ini, salah satu kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan adalah pemberian akses pengelolaan hutan kepada masyarakat seluas 12,7 juta ha melalui skema perhutanan sosial. Program perhutanan sosial dalam bentuk hutan kemasyarakatan, hutan desa, hutan tanaman rakyat, hutan adat dan kemitraan agar berhasil dan berdaya guna perlu pendampingan dari berbagai pihak, baik oleh penyuluh, lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi maupun dunia usaha.<br \/>\nHal tersebut tersampaikan dalam pembukaan Kegiatan Peningkatan Kapasitas Tenaga Pendamping Kelompok Pemegang Ijin Perhutanan Sosial, Selasa (17\/04) di Balai Diklat LHK Kadipaten, Majalengka Jawa Barat.<br \/>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-1423 alignleft\" src=\"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/BERTEMAN-1-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"201\" height=\"151\" srcset=\"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/BERTEMAN-1-300x225.jpg 300w, https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/BERTEMAN-1-360x270.jpg 360w, https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/BERTEMAN-1.jpg 696w\" sizes=\"auto, (max-width: 201px) 100vw, 201px\" \/>Perhutanan Sosial merupakan implementasi Program Nawacita Pemerintahan Jokowi, membangun Indonesia dari pinggiran, dan Negara hadir untuk mensejahterakan masyarakat. \u201cSesuai arahan Presiden Jokowi, program ini jangan hanya memperhatikan capaian luasan, tetapi secara kualitas, masyarakat sejahtera lingkungan terjaga kelestariannya,\u201d menurut Direktur Kemitraan Lingkungan, Jo Kumala Dewi.<br \/>\nPerhutanan sosial tidak hanya berhenti sampai dikeluarkannya ijin pengelolaan. Kelompok tani hutan harus menyusun rencana kegiatan usaha, rencana kelola kawasan, kelola kelembagaan. \u201cDisinilah kehadiran pendamping kelompok menjadi penting untuk mendukung keberhasilan program perhutanan sosial,\u201d lanjut Jo Kumala Dewi.<br \/>\nPenyuluh Kehutanan di tingkat tapak berperan melakukan pendampingan Kelompok Tani Hutan dalam mengakses perhutanan sosial. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.83\/Menlhk\/Setjen\/Kum.1\/8\/2016 tentang Perhutanan Sosial mengamanatkan Penyuluh Kehutanan untuk mendampingi masyarakat mulai dari pembentukan kelompok, pengusulan hingga terbitnya ijin serta pengembangan usaha.<\/p>\n<p>Menurut Kepala Pusat Penyuluhan, Kementerian LHK, Mariana Lubis, jumlah penyuluh kehutanan pegawai negeri sipil terus mengalami penurunan dan sampai dengan saat ini sebanyak 3.137 orang. Hal tersebut <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-1425 alignright\" src=\"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/BERTEMAN-2-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"242\" height=\"161\" srcset=\"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/BERTEMAN-2-300x200.jpg 300w, https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/BERTEMAN-2.jpg 650w\" sizes=\"auto, (max-width: 242px) 100vw, 242px\" \/>dikarenakan adanya proses purna tugas, alih tugas menjadi pajabat struktural, dan faktor lain. Jumlah tersebut tentu tidak sebanding dengan luasan target perhutanan sosial. Sehingga perlu peran multi pihak dalam melakukan pendampingan.<br \/>\n\u201cKonsep pendampingan yang diterapkan adalah dengan kolaborasi atau lebih dikenal dengan Pendampingan BERTEMAN (BERbagi peran, TErapkan kebersamaan, MANdiri hasilnya) antara Penyuluh Kehutanan PNS, Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Perguruan Tinggi dan dunia usaha melalui penguatan kelola kelembagaan, kelola kawasan dan kelola usaha,\u201dlanjut Mariana.<br \/>\nUntuk mendukung kegiatan pendampingan tersebut, diperlukan peningkatan pengetahuan dan kapasitas tenaga pendamping untuk menjawab berbagai kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi petani pemegang ijin perhutanan sosial di tingkat tapak.<br \/>\nKegiatan peningkatan kapasitas ini dihadiri oleh 100 orang peserta dari penyuluh kehutanan PNS, PKSM, LSM, tenaga pendamping masyarakat dan ketua kelompok tani beberapa daerah di Pulau Jawa. Melalui ceramah, diskusi kelompok, tukar pengalaman, simulasi kelompok dan praktek lapang diharapkan peserta dapat berpartisipasi aktif dan diterapkan langsung di masyarakat.<br \/>\nAcara yang rencananya dilaksanakan selama empat hari ini akan disampaikan materi berupa optimalisasi peran penyuluhan dalam pendampingan perhutanan sosial, metode identifikasi pemetaan potensi dan permasalahan kelompok Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan, pendampingan BERTEMAN, serta pendampingan penguatan kelola kelembagaan, kelola kawasan dan kelola usaha.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PENDAMPINGAN \u201cBERTEMAN\u201d MENDUKUNG PERCEPATAN PERHUTANAN SOSIAL &nbsp; Pada periode 2015 \u2013 2019 ini, salah satu kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan adalah pemberian akses pengelolaan hutan kepada masyarakat seluas 12,7 juta ha melalui skema perhutanan sosial. Program perhutanan sosial dalam bentuk hutan kemasyarakatan, hutan desa, hutan tanaman rakyat, hutan adat dan kemitraan agar berhasil dan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":1426,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1412","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1412","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1412"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1412\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7817,"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1412\/revisions\/7817"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1426"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1412"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1412"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1412"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}