Inovasi Pendidikan Kehutanan Berbasis SDGs, Kepala SMK di Pekanbaru Raih Penghargaan Internasional

Pekanbaru – Kepala SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru, Slamet Supriyadi, meraih penghargaan “Higher Honor” dalam ajang Saemaul International Development Achievement Contest 2025 yang diselenggarakan oleh Park Chung Hee School of Policy and Saemaul (PSPS), Yeungnam University, Korea Selatan.

Kompetisi tingkat global ini diikuti 258 peserta dari berbagai negara dan dilaksanakan secara daring pada Oktober–November 2025, dengan pengumuman pemenang pada 19 Desember 2025. Penilaian dilakukan oleh akademisi dan pakar gerakan Saemaul Undong dari Korea Selatan.

Dalam ajang tersebut, Slamet mempresentasikan inovasi tata kelola pendidikan kehutanan yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Inovasi ini mengintegrasikan pendidikan kehutanan dengan pembelajaran matematika kontekstual yang disesuaikan dengan karakter psikologis dan kognitif Generasi Z.

Konsep yang diusung menempatkan hutan sebagai media pembelajaran strategis, tidak hanya untuk aspek akademik, tetapi juga untuk mendukung ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Pembelajaran matematika dirancang aplikatif dengan pendekatan konstruktivisme agar siswa mampu berpikir kritis dan memecahkan masalah nyata.

“Pembelajaran matematika yang saya terapkan dirancang agar mencerdaskan sekaligus menyenangkan. Fokusnya bukan pada hafalan rumus, tetapi pada pemahaman konsep dan literasi, sehingga siswa mampu melihat bagaimana matematika diterapkan dalam kehidupan nyata dan melatih kemampuan analisis serta pemecahan masalah,” ujarnya.

Inovasi tersebut telah diterapkan di SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru, mulai dari kegiatan belajar mengajar, persiapan olimpiade, asesmen numerasi, hingga integrasi nilai SDGs dalam mata pelajaran kehutanan. Dampaknya terlihat pada meningkatnya kepedulian siswa terhadap lingkungan serta kesadaran sebagai warga global.

“Penerapan inovasi ini diharapkan berdampak pada meningkatnya kepedulian siswa terhadap lingkungan. Mereka tidak hanya menguasai aspek teknis kehutanan, tetapi juga tumbuh rasa keterikatan emosional serta kesadaran sebagai warga global yang memiliki tanggung jawab menjaga kelestarian bumi,” tambahnya.

Slamet menilai inovasi ini berpotensi direplikasi di sekolah kehutanan dan SMK lain di Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan lingkungan dan daya saing lulusan. Ia juga menekankan pentingnya peran guru serta peningkatan kualitas dan kesejahteraan pendidik agar mampu menjawab tantangan global. (MIR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.